Ketangguhan Perempuan Aceh Jadi Sorotan Murthalamuddin di Hadapan Prof Stella Christie

oleh
oleh
Kadisdik Aceh, Murthalamuddin, menegaskan bahwa perempuan Aceh sejak masa lampau telah menunjukkan ketangguhan, kecerdasan, dan kapasitas kepemimpinan yang kuat, jauh sebelum gagasan emansipasi perempuan berkembang luas di Indonesia. Kamis (7/5/2026).

MRI – Banda Aceh  | Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menegaskan bahwa perempuan Aceh sejak masa lampau telah menunjukkan ketangguhan, kecerdasan, dan kapasitas kepemimpinan yang kuat, jauh sebelum gagasan emansipasi perempuan berkembang luas di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Murthalamuddin saat menyambut kedatangan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Stella Christie, Ph.D., di SMAN 10 Fajar Harapan, Banda Aceh, Kamis (7/5/2026).

Di hadapan ratusan siswa dan guru, Murthalamuddin menyinggung sejarah panjang Aceh yang pernah dipimpin oleh para sultanah dalam kurun waktu yang tidak singkat. Menurutnya, fakta sejarah itu menjadi bukti bahwa perempuan Aceh memiliki posisi terhormat dan memainkan peran penting dalam perjalanan peradaban daerah.

“Ketika di banyak daerah perempuan masih dipandang belum layak menjadi pemimpin, Aceh justru telah dipimpin para sultanah selama ratusan tahun. Ini menunjukkan bahwa perempuan Aceh sejak dulu memiliki kapasitas dan ketangguhan luar biasa,” ujar Murthalamuddin.

Ia juga mengingatkan tentang kiprah para perempuan Aceh dalam perjuangan melawan penjajahan serta kontribusi mereka dalam kehidupan sosial dan pendidikan masyarakat. Semangat perjuangan tersebut, kata dia, harus diwariskan kepada generasi muda, khususnya para siswi di Aceh, agar tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani, dan berdaya saing global.

Menurut Murthalamuddin, sejarah besar Aceh seharusnya menjadi sumber motivasi bagi para pelajar untuk terus berprestasi hingga tingkat internasional.

Dalam kesempatan itu, ia turut menyoroti tantangan dunia pendidikan Aceh yang masih membutuhkan pembenahan serius. Meski anggaran pendidikan Aceh tergolong besar, bahkan mencapai sekitar 29,7 persen dari APBA 2026, ia menilai kualitas pendidikan belum sepenuhnya bergerak seiring dengan besarnya dukungan anggaran yang tersedia.

“Kita memiliki gedung yang baik dan anggaran yang besar, tetapi kualitas serta ritme pendidikan masih perlu terus diperkuat agar sesuai dengan harapan masyarakat,” katanya.

Meski demikian, Murthalamuddin tetap optimistis masa depan pendidikan Aceh akan semakin maju melalui penguatan sekolah unggulan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan akses beasiswa luar negeri bagi siswa berprestasi.

Ia mengungkapkan, tahun ini sejumlah pelajar Aceh berhasil diterima di berbagai perguruan tinggi luar negeri. Pemerintah Aceh, lanjutnya, juga menyiapkan dukungan biaya hidup bagi siswa yang belum sepenuhnya tercakup dalam program bantuan pendidikan.

“Kami ingin anak-anak Aceh mendapatkan ruang aktualisasi yang lebih besar, memperoleh ilmu terbaik, lalu kembali untuk membangun daerahnya,” ujarnya.

Kunjungan Prof. Stella Christie ke SMAN 10 Fajar Harapan menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam melahirkan sumber daya manusia unggul dari Aceh yang mampu bersaing di tingkat global.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *