Plt. Dinas Dayah Aceh: Dayah, Pemerintah dan Ormas Harus Bersinergi Hadapi Narkoba dan Degradasi Moral

oleh
oleh
Plt. Kadis Dayah Aceh Muhsin, S.Pd, M.Pd saat menjadi narasumber pengajian bulanan yang diselenggarakan Pengurus Wilayah (PW) Al-Washliyah Aceh, Rabu (10/6/2026).

MRI – Banda Aceh | ‎Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Muhsin, S.Pd.I., M.Pd.I., menegaskan kolaborasi antara dayah, pemerintah, dan organisasi kemasyarakatan Islam menjadi kunci menghadapi persoalan sosial yang makin kompleks. Mulai dari penyalahgunaan narkoba hingga degradasi moral generasi muda, tidak bisa ditangani satu lembaga saja.

‎Pesan itu disampaikan Muhsin saat mengisi pengajian bulanan Pengurus Wilayah PW Al-Washliyah Aceh di Banda Aceh, Rabu 10 Juni 2026. Pengajian dihadiri pengurus, anggota, dan masyarakat yang memadati majelis.

‎Menurut Muhsin, dayah, pemerintah, dan ormas punya fungsi yang saling melengkapi dalam membangun karakter masyarakat Aceh. Dayah berperan sebagai pusat pembinaan akhlak dan ilmu. Pemerintah berfungsi sebagai regulator dan fasilitator kebijakan. Ormas menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai elemen masyarakat ke program nyata.

“Dayah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan moral masyarakat. Pemerintah berfungsi sebagai regulator sekaligus fasilitator, sedangkan ormas menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai elemen masyarakat. Karena itu, sinergi ketiganya merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar,” Ujar Muhsin.

‎Ia menilai, jika ketiga pilar ini berjalan sendiri-sendiri, dampaknya tidak maksimal. Sebaliknya, jika program disusun bersama, hasilnya akan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat di akar rumput.

‎Muhsin mendorong kolaborasi diwujudkan lewat program konkret. Tiga fokus utama yang ia sebutkan: penguatan pendidikan karakter, pembinaan generasi muda, dan pemberdayaan ekonomi umat.

‎Pendidikan karakter menurutnya harus dimulai dari dayah dengan kurikulum yang mengintegrasikan adab dan keterampilan hidup. Pemerintah menyiapkan regulasi, pelatihan guru, dan dukungan sarana. Ormas berperan menyalurkan program ke masyarakat, menggerakkan relawan, dan melakukan pendampingan langsung.

‎“Kalau programnya hanya di atas kertas, tidak akan sampai ke santri dan pemuda di gampong. Harus ada aksi nyata yang bisa dirasakan masyarakat,” Ucapnya.

‎Dalam kesempatan itu Muhsin juga menyoroti ancaman penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan penyimpangan sosial lain yang meningkat. Ia menyebut persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan razia atau kampanye sepihak.

‎“Pembinaan moral dan penguatan nilai-nilai keislaman harus menjadi gerakan bersama. Dayah, pemerintah, dan ormas memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga generasi muda dari berbagai pengaruh negatif,” tegasnya.

‎Ia mengajak dayah memperkuat pendidikan akhlak dan literasi agama, pemerintah memperkuat pencegahan melalui BNN dan dinas terkait, sementara ormas aktif di gampong untuk deteksi dini dan pendampingan korban. Langkah terpadu dinilai paling efektif memutus rantai persoalan sosial.

‎Di akhir pengajian, Muhsin berharap sinergi antar lembaga terus diperkuat. Pembangunan Aceh ke depan, katanya, tidak boleh hanya berorientasi pada angka ekonomi. Yang lebih penting adalah melahirkan generasi yang berkarakter, berdaya saing, dan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.

‎“Kalau pondasi moralnya kuat, maka kemajuan ekonomi akan dijaga agar tidak melenceng. Generasi Aceh harus cerdas, beradab, dan siap menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan identitas keislamannya,” Jelas Muhsin.

‎Pengajian bulanan PW Al-Washliyah Aceh rutin digelar sebagai forum silaturahmi dan penguatan wawasan keislaman. Kehadiran Plt Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh menambah dimensi kebijakan publik dalam forum keagamaan, sehingga pesan moral selaras dengan arah program pemerintah. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *