MRI – Jakarta | Penyelenggaraan siaran Piala Dunia FIFA 2026 yang ditayangkan TVRI memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia memperkirakan rangkaian kegiatan yang terkait dengan siaran Piala Dunia menghasilkan perputaran ekonomi langsung maupun tidak langsung sebesar Rp5,03 triliun.
Nilai tersebut berasal dari berbagai aktivitas ekonomi yang berlangsung sejak masa persiapan hingga pelaksanaan turnamen, meliputi belanja hak siar, periklanan, sponsorship, promosi produk, peningkatan penjualan perangkat elektronik dan merchandise, transaksi di sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), kegiatan nonton bareng (nobar), hingga aktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam Festival Rakyat 2026.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo Wicaksono, mengatakan manfaat ekonomi Piala Dunia tidak hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga menjangkau pelaku usaha di berbagai daerah.
“Piala Dunia 2026 tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan besar dan pemilik merek nasional, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi bagi hotel, restoran, kafe, pedagang makanan, pelaku industri kreatif, penyedia jasa, hingga UMKM di berbagai daerah,” kata Kukrit, dalam keterangan resminya yang diterima InfoPublik pada Minggu (19/7/2026).
Menurut Kukrit, dampak ekonomi tersebut merupakan hasil kolaborasi TVRI dengan pemerintah, dunia usaha, TNI, Polri, serta tingginya partisipasi masyarakat selama penyelenggaraan turnamen.
Hal itu diperkuat hasil survei Lokadata bersama TVRI terhadap 1.176 responden di 10 wilayah Indonesia pada 7–13 Juli 2026. Survei menunjukkan 91,5 persen responden mengikuti Piala Dunia 2026, sementara 62,2 persen di antaranya menyaksikan pertandingan secara langsung melalui siaran TVRI.
“Tingginya partisipasi tersebut diikuti sentimen positif terhadap penyelenggaraan siaran yang tercatat merata di seluruh wilayah Indonesia,” ujarnya.
Survei juga menunjukkan kegiatan nonton bareng (nobar) menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Sebanyak 78,1 persen responden mengikuti nobar sedikitnya satu kali selama turnamen, dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp51 ribu setiap kegiatan atau sekitar Rp145 ribu sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia.
Pengeluaran tersebut digunakan untuk membeli makanan dan minuman, paket data internet, hingga berbagai kebutuhan pendukung lainnya sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi pelaku UMKM.
“Inilah bukti bahwa momentum olahraga internasional dapat menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. Ketika pos ronda, balai warga, atau lapangan kampung berubah menjadi ruang nonton bersama, pada saat yang sama tumbuh aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” jelas Kukrit.
Selain itu, luasnya jangkauan siaran TVRI turut memperbesar dampak ekonomi. Berdasarkan survei yang sama, 59,5 persen responden mengakses pertandingan melalui siaran TV digital gratis, melampaui penggunaan berbagai platform digital berbayar.
Survei juga mencatat 79,9 persen responden memberikan penilaian positif terhadap penyelenggaraan siaran Piala Dunia, sedangkan 73 persen menyatakan bangga TVRI menjadi official broadcaster Piala Dunia FIFA 2026 di Indonesia. Mayoritas responden menilai akses siaran yang gratis, minim iklan, dan mudah dijangkau menjadi keunggulan utama TVRI.
Direktur Utama TVRI, Fiki Satari, mengatakan keberhasilan penyelenggaraan siaran Piala Dunia tidak hanya diukur dari kualitas tayangan, tetapi juga dari manfaat ekonomi dan sosial yang dirasakan masyarakat.
“Kepercayaan yang diberikan kepada TVRI sebagai penyiar resmi FIFA merupakan amanah untuk menghadirkan siaran Piala Dunia yang mudah dijangkau masyarakat. Bagi TVRI, Piala Dunia 2026 bukan hanya menghadirkan tontonan berkualitas, tetapi juga menciptakan ruang kebersamaan dan memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat di berbagai daerah,” ujar Fiki.
Ia turut mengapresiasi dukungan KADIN Indonesia, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, komunitas, pelaku UMKM, mitra penyiaran, relawan, serta masyarakat yang telah berkolaborasi menyukseskan kegiatan on-air maupun off-air selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Capaian tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, memperkuat pemberdayaan UMKM, meningkatkan ekonomi kreatif, serta memperluas pemerataan manfaat pembangunan melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. []
