MRI – Banda Aceh | Dinas Pendidikan Dayah Aceh menetapkan empat program prioritas sebagai motor penggerak transformasi mutu pendidikan dayah di Aceh. Program ini menargetkan perbaikan sarana fisik, lompatan digitalisasi data, peningkatan kualitas guru, serta penguatan ekonomi dan literasi teknologi santri. Inisiatif ini digulirkan dengan harapan mencetak generasi dayah yang berdaya saing dan tetap berlandaskan syariat Islam.
Pelaksana Tugas Plt Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Muhsin, S.Pd, M.Pd, menyatakan empat program tersebut dirancang agar dayah selaras dengan visi pembangunan daerah di bawah kepemimpinan Gubernur Muzakir Manaf dan Wakil Gubernur Fadhlullah.
“Keempat program prioritas ini adalah bentuk keseriusan pemerintah. Kami berharap dukungan semua pihak agar Aceh menjadi lebih maju, bermartabat, dan tetap berlandaskan nilai syariat Islam,” ujar Muhsin di Banda Aceh.
E-Datuda: Menguji Transparansi Data Dayah
Pilar pertama adalah peluncuran Elektronik Data Tunggal Dayah E-Datuda. Sistem ini mengintegrasikan seluruh basis data dayah di Aceh ke satu ekosistem digital. Tujuannya: memastikan perencanaan kebijakan lebih presisi dan akuntabel.
Dalam kerangka tata kelola publik, E-Datuda diharapkan menjadi instrumen transparansi. Data dayah yang terpusat dan valid bisa mencegah tumpang tindih penyaluran dana, terutama untuk program peningkatan sarana dan prasarana.
Uji keberhasilannya akan terlihat di lapangan. Integrasi data E-Datuda akan menentukan apakah setiap tender proyek fisik dan alokasi bantuan benar-benar tepat sasaran dan terhindar dari kebocoran anggaran. Disdik Dayah menekankan, akurasi penginputan data oleh dayah menjadi kunci agar sistem ini berfungsi.
Peningkatan Sarana dan Prasarana
Program kedua menyasar perbaikan fisik dayah. Sasaran utamanya dayah perbatasan dan dayah yang belum memiliki fasilitas belajar memadai. Perbaikan meliputi ruang kelas, asrama santri, laboratorium, perpustakaan, hingga akses air bersih dan sanitasi.
E-Datuda akan dipakai sebagai dasar pemetaan kebutuhan. Dengan data tunggal, Disdik Dayah bisa memprioritaskan dayah yang paling mendesak, menghindari duplikasi bantuan, dan memantau progres pembangunan secara real time. Pengawasan publik dan keterlibatan masyarakat dayah diharapkan memperkuat akuntabilitas.
Peningkatan Mutu Guru dan Tenaga Kependidikan
Fokus ketiga adalah peningkatan mutu pendidik. Disdik Dayah mendorong guru dan tenaga kependidikan lebih adaptif terhadap perkembangan zaman melalui pelatihan dan lokakarya. Materi mencakup pedagogik, manajemen kelas, literasi digital, hingga integrasi nilai keislaman dalam pembelajaran.
Tanpa mengurangi ruh dayah, guru dibekali kemampuan menggunakan teknologi untuk pembelajaran. Tujuannya agar santri mendapat pengajaran yang kontekstual, relevan, dan tetap beradab. Program ini akan berjalan bertahap dengan skema pelatihan berjenjang dan pendampingan di dayah.
Ekonomi Santri dan Pendidikan Inklusif
Program keempat menggabungkan pembekalan keterampilan hidup life skills dan kewirausahaan bagi santri. Inisiatif ini membuka peluang pembaruan kurikulum dayah agar tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga kecakapan praktis.
Disdik Dayah mendorong integrasi literasi teknologi dan pendidikan inklusif. Santri di pelosok Aceh diharapkan memiliki kesetaraan akses terhadap ilmu pengetahuan dan keterampilan digital dasar. Dengan memadukan nilai syariat dan keterampilan teknologi, santri diproyeksikan lulus tidak hanya sebagai pakar agama, tapi juga individu mandiri yang siap menavigasi ekonomi modern.
Model yang dikembangkan antara lain pelatihan wirausaha, pengelolaan keuangan sederhana, hingga pemanfaatan teknologi untuk pemasaran produk dayah. Harapannya, dayah tumbuh menjadi pusat pendidikan sekaligus pusat ekonomi umat.
Empat program ini kini masuk tahap eksekusi teknis. Tantangan terbesar Disdik Dayah Aceh adalah membuktikan program tidak berhenti sebagai narasi konseptual. Publik menanti tiga hal: eksekusi yang transparan, indikator capaian yang terukur, dan komitmen menciptakan ruang belajar inklusif bagi semua lapisan.
Muhsin menegaskan, keberhasilan tergantung pada kolaborasi. Pemerintah daerah, dayah, ormas, dan masyarakat harus mengawal implementasi agar target tercapai. “Tanpa data yang benar, tanpa guru yang siap, tanpa santri yang mandiri, transformasi sulit terjadi,” katanya.
Disdik Dayah menyatakan akan membuka kanal informasi progres program secara berkala. Monitoring, evaluasi, dan keterbukaan data menjadi prasyarat agar kepercayaan publik terjaga.
Empat Program Prioritas Disdik Dayah Aceh 2026
1. E-Datuda: Integrasi data tunggal dayah untuk perencanaan dan transparansi anggaran
2. Sarana Prasarana: Perbaikan fisik dayah berbasis data, prioritas dayah perbatasan
3. Mutu Guru: Pelatihan pedagogik dan literasi digital tanpa mengurangi nilai keislaman
4. Ekonomi Santri: Life skills, kewirausahaan, dan literasi teknologi untuk kemandirian santri. []
