Keputusan itu berdampak pada beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta yang melaporkan peningkatan aktivitas selama lima hari libur. Namun, efek kebijakan tersebut berumur pendek dan semuanya kembali seperti semula pada 3 Juli, menurut vendor.
Alphonzus Widjaja, Ketua Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) mengakui, beberapa pusat perbelanjaan kesulitan menarik pelanggan dan penyewa.
Mal seharusnya tidak lagi hanya untuk berbelanja karena mereka akan bersaing langsung dengan e-commerce, katanya.
“Sebaliknya, mal harus menjadi tempat terbentuknya interaksi sosial. Itu perlu menjadi pusat kegiatan. Ini adalah hal-hal yang dirindukan orang setelah mereka keluar dari pandemi dan ini adalah hal-hal yang tidak dapat ditawarkan oleh platform e-niaga.”
Widjaja menyoroti keberhasilan pusat perbelanjaan Sarinah pertama di Indonesia dalam mengubah dirinya dari fasilitas usang dan sunyi menjadi tempat makan, berbelanja, dan hang out yang modern dan trendi.
Pusat perbelanjaan milik negara berusia 56 tahun ini menjalani renovasi besar-besaran dan perombakan konsep pada tahun 2020. Proyek renovasi selama dua tahun menelan biaya pemerintah 700 miliar rupiah (US$46 juta).
“Asosiasi kami telah berkomunikasi dengan mal-mal yang kesulitan ini bahwa mereka perlu mengubah diri mereka sendiri. Mereka semua setuju bahwa mereka perlu mengubah konsep mereka tetapi itu membutuhkan uang yang belum tentu mereka miliki,” ujarnya.
“Tapi mungkin saja pusat perbelanjaan yang sakit memiliki kesempatan hidup baru.”
